Total Tayangan Halaman

Minggu, 14 Juli 2013

Syeikh Muhammad Bahauddin An-Naqsabandiy

Beliau adalah Guru Besar Toriqoh annaqsabandiy. Untuk lebih jelasnya   klik disini.

Seorang Wali Qutub yang masyhur hidup pada tahun 717-791 H di desa Qoshrul ‘Arifan, Bukhara, Rusia.
Wali Quthub al-Aqthab atau Wali Quthub al-Ghauts
Wali yang sangat paripurna. Ia memimpin dan menguasai wali diseluruh alam semesta. Jumlahnya hanya seorang setiap masa. Jika wali ini wafat, maka Wali Quthub lainnya yang menggantikan.


Beberapa wali yang pernah mencapai derajat wali Quthub al-Aqthab (Quthub al-Ghaus) pada masanya :
  • Sayyid Hasan ibnu Ali ibnu Abi Thalib
  • Khalifah Umar ibnu Abdul Aziz
  • Syaikh Yusuf al-Hamadani
  • Syaikh Abdul Qadir al-Jilani
  • Syaikh Ahmad al-Rifa’i
  • Syaikh Abdus Salam ibnu Masyisy
  • Syaikh Ahmad Badawi
  • Syaikh Abu Hasan asy-Syazili
  • Syaikh Muhyiddin ibnu Arabi
  • Syaikh Muhammad Bahauddin an-Naqsabandi

Nama lengkap beliau adalah Syaikh Bahauddin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Asy Syarif Al Husaini Al Hasani Al Uwaisi Al Bukhari QS (Syech Naqsyabandy) Dilahirkan di Qashrul ‘Arifan, Bukhara, Uzbekistan tanggal 15 Muharram tahun tahun 717 H atau tahun 1317 M. Syekh Naqsyabandi lahir dari lingkungan keluarga sosial yang baik dan kelahirannya disertai oleh kejadian yang aneh.

Menurut satu riwayat, jauh sebelum tiba waktu kelahirannya sudah ada tanda- tanda aneh yaitu bau harum semerbak di desa kelahirannya itu. Bau harum itu tercium ketika rombongan Syekh Muhammad Baba As Samasi q.s. (silsilah ke- 13), seorang wali besar dari Sammas (sekitar 4 km dari Bukharah), bersama pengikutnya melewati desa tersebut. Ketika itu As Samasi berkata, “Bau harum yang kita cium sekarang ini datang dari seorang laki- laki yang akan lahir di desa ini”. Sekitar tiga hari sebelum Naqsyabandi lahir, wali besar ini kembali menegaskan bahwa bau harum itu semakin semerbak.


Dari awal, ia memiliki kaitan erat dengan Khowajikaniyyah, yaitu para guru dalam mata rantai Tariqat Naqsyabandi. Sejak masih bayi, ia diadopsi sebagai anak spiritual oleh salah seorang dari mereka, yaitu Baba Muhammad Sammasi. Sammasi merupakan pemandu pertamanya dalam jalur ini, dan yang lebih penting lagi adalah hubungannya dengan penerus (khalifah) Sammasi, yaitu Amir Kulal, yang merupakan rantai terakhir dalam silsilah sebelum Baha-ud-Din. Baha-ud-Din mendapat latihan dasar dalam jalur ini dari Amir Kulal, yang juga merupakan sahabat dekatnya selama bertahun-tahun.

Pada suatu saat, Baha-ud-Din mendapat instruksi secara "ruhani" oleh Abdul Khaliq Gajadwani (yang telah meninggal secara jasmani) untuk melakukan dzikir secara hening (tanpa suara). Meskipun Amir Kulal adalah keturunan spiritual dari Abdul Khaliq, Amir Kulal mempraktekkan dzikir yang dilakukan dengan bersuara. Setelah mendapat petunjuk mengenai dzikir diam tersebut, Baha-ud-Din lantas absen dari kelompok ketika mereka mengadakan dzikir bersuara.


Setelah Naqsyabandi lahir, dia segera dibawa oleh ayahnya kepada Syekh Muhammad Baba As Samasi yang menerimanya dengan gembira. As Samasi berkata, “Ini adalah anakku, dan menjadi saksilah kamu bahwa aku menerimanya”. Naqsyabandi rajin menuntut ilmu dan dengan senang hati menekuni tasawuf. Dia belajar tasawuf kepada Muhammad Baba as Samasi ketika beliau berusia 18 tahun. Untuk itu beliau bermukim di Sammas dan belajar di situ sampai gurunya (Syekh As Samasi) wafat. Sebelum Syekh As Samasi wafat, beliau mengangkat Naqsyabandi sebagai khalifahnya. Setelah gurunya wafat, dia pergi ke Samarkand, kemudian pulang ke Bukhara, setelah itu pulang ke desa tempat kelahirannya. Setelah belajar dengan Syekh Baba As Samasi (silsilah ke 13), Naqsyabandi belajar ilmu tarikat kepada seorang wali quthub di Nasyaf, yaitu Syekh As Sayyid Amir Kulal q.s. (silsilah ke- 14).
Syekh Naqsyabandi pernah bertemu secara rohani dengan Syekh Abdul Khaliq Fadjuani dan di ajarkan zikir khafi serta suluk, Sejak masa Syaikh Arif Ar Riwikari sampai Syekh Amir Kulal zikir/tawajuh bersama dilakukan secara zahar akan tetapi kalau zikir sendiri secara khafi, Syekh Naqsyabandi tidak pernah ikut ertawajuh dengan Syekh Amir Kullal yang zikir bersama secara zahar, hal ini menimbulkan prasangka buruk pada murid murid gurunya yang tidak mengerti duduk persoalan. Akan tetapi Syekh Amir Kullal justru bertambah sayang dan cinta kepada Syekh Naqsyabandi. Suatu hari Syekh Bahauddin di panggil oleh Gurunya dan berkata, “ Duuh putraku Bahauddin, kebetulan sekali pada waktu ini saudara saudara kita terutama para Khalifahku sedang berkumpul, aku akan berkata kepadamu, supaya disaksikan oleh para hadirin: Bahauddin! Supaya engkau tahu, bersamaan hidmahmu disini, Alhamdulillah aku telah melaksanakan wasiat guruku alhmarhum Syekh Muhammad Baba (lalu Syekh Amir Kullal memberi isyarat pada susunya), dan berkata kepadanya: Engkau telah meneteki susu pendidikanku ini sampai kering, tetapi wadahmu terlalu besar dan persiapanmu sangat kuat, maka itu aku telah mengizinkan kepadamu supaya meninggalkan tempat ini untuk mencari beberapa guru supaya kamu menambah beberapa faedah yang perlu dari mereka dan faidan nur (Keluberan Nur Ilahi) yang selaras dengan cita citamu yang agung itu. Aku hanya bisa memberi ancar ancar carilah guru dari tanah Tajik dan dari tanah Turki”.
Setelah meminta izin dari Syekh Amir Kulal selanjutnya Syekh Naqsyabandi berguru kepada Syekh ‘Arifuddin Karoni selama tujuh tahun, kemudian berguru kepada Maulana Qatsam selama dua tahun terkahir kepada Syekh Darwisy Khalil dari Turki selama dua belas tahun. Syekh Naqsyabandi telah melaksanakan titah gurunya (Syekh Amir Khulal) demikian juga fatwa-fatwa dari Syekh Abdul Khaliq Fadjuani untuk memperdalam ilmu-ilmu syariat secara mendalam sehingga sempurnalah ilmu yang Beliau peroleh. Syekh Bahauddin pernah menyanjung ilmu tarekatnya dengan ucapan “Permulaan pelajaran Tarikatku akhir dari pelajaran semua tarekat”. Pisahnya Baha-ud-Din dari kelompok Amir Kulal ini mungkin bisa dianggap sebagai penanda terwujudnya tariqat Naqsyabandi, yang ajarannya didapat dari Abdul Khaliq, yang ujungnya berasal dari Khalifah Abu Bakar diperoleh dari Nabi Muhammad.
Al Qutub, Auliya Allah, Penasehat Utama Sultan Khalil di Samarqan, fatwa-fatwanya menjadi rujukan Hakim-Hakim Agung dalam memutuskan perkara. Karena kebesaran namanya, Tarekat yang di pimpinnya tersebar dengan cepat dan termashur serta memiliki pengikut yang sangat banyak dan tersebar ke seluruh dunia.
Beliau meletakkan dasar-dasar zikir qalbi yang sirri, zikir batin qalbi yang tidak berbunyi dan tidak bergerak, dan beliau meletakkan kemurnian ibadat semata-mata lillahi ta’ala, tergambar dalam do’a beliau yang diajarkan kepada murid-muridnya “Ilahi anta makshuudi waridlaaka mathluubi”. secara murni meneruskan ibadat Tratiwatus Sirriyah zaman Rasulullah, Thariqatul Ubudiyyah zaman Abu Bakar Siddiq dan Thariqatus Siddiqiyah zaman Salman al-Farisi. Beliau amat masyhur dengan keramat-keramatnya dan makmur dengan kekayaannya, lagi terkenal sebagai wali akbar dan wali quthub yang afdal, yang amat tinggi hakikat dan marifatnya. Dari murid-muridnya dahulu sampai dengan sekarang, banyak melahirkan wali-wali besar di Timur maupun di Barat, sehingga ajarannya meluas ke seluruh pelosok dunia. Beliau pulalah yang mengatur pelaksanaan iktikaf atau suluk dari 40 (empat puluh) hari menjadi 10 (sepuluh) hari, yang dilaksanakan secara efisien dan efektif, dengan disiplin dan ada suluk yang teguh. Syekh Naqsyabandy wafat pada malam Senin Tanggal 3 Rabi’ul Awal tahun 791 H dalam usia 74 tahun.
Syekh Naqsyabandi meninggalkan banyak penerus, yang paling terhormat di antara mereka adalah Syekh Muhammad bin Muhammad Alauddin al-Khwarazmi al-Bukhari al-Attar q.s dan Syaikh Muhammad bin Muhammad bin Mahmoud al-Hafizi q.s, yang dikenal sebagai Muhammad Parsa, penulis Risalah Qudsiyyah. Kepada yang pertamalah Syekh Naqsyabdi meneruskan Ilmunya dan menjadi Ahli Silsilah ke-16

Syekh Muhammmad Baba as Samasiy adalah guru pertama kali dari Syekh Muhammad Bahauddin Ra. yang telah mengetahui sebelumnya tentang akan lahirnya seseorang yang akan menjadi orang besar, yang mulia dan agung baik disisi Allah Swt. maupun dihadapan sesama manusia di desa Qoshrul Arifan yang tidak lain adalah Syekh Bahauddin.

Di dalam asuhan, didikan dan gemblengan dari Syekh Muhammad Baba inilah Syekh Muhammad Bahauddin mencapai keberhasilan di dalam mendekatkan diri kepada Allah Swt. sampai Syekh Muhammad Baba menganugerahinya sebuah “kopiah wasiat al Azizan” yang membuat cita-citanya untuk lebih dekat dan wusul kepada Allah Swt. semakin meningkat dan bertambah kuat. Hingga pada suatu saat, Syekh Muhammad Bahauddin Ra. melaksanakan sholat lail di Masjid. Dalam salah satu sujudnya hati beliau bergetar dengan getaran yang sangat menyejukkan sampai terasa hadir dihadapan Allah (tadhoru’). Saat itu beliau berdo’a, “Ya Allah berilah aku kekuatan untuk menerima bala’ dan cobaanya mahabbbah (cinta kepada Allah)”.

Setelah subuh, Syekh Muhammad Baba yang memang seorang waliyullah yang kasyaf (mengetahui yang ghoib dan yang akan terjadi) berkata kepada Syekh Bahauddin, “Sebaiknya kamu dalam berdo’a begini, “Ya Allah berilah aku apa saja yang Engkau ridloi”. Karena Allah tidak ridlo jika hamba-Nya terkena bala’ dan kalau memberi cobaan, maka juga memberi kekuatan dan memberikan kepahaman terhadap hikmahnya”. Sejak saat itu Syekh Bahauddin seringkali berdo’a sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Syekh Muhammad baba.

Untuk lebih berhasil dalam pendekatan diri kepada Sang Kholiq, Syekh Bahauddin seringkali berkholwat menyepikan hatinya dari keramaian dan kesibukan dunia. Ketika beliau berkholwat dengan beberapa sahabatnya, waktu itu ada keinginan yang cukup kuat dalam diri Syekh Bahauddin untuk bercakap-cakap. Saat itulah secara tiba-tiba ada suara yang tertuju pada beliau, “He, sekarang kamu sudah waktunya untuk berpaling dari sesuatu selain Aku (Allah)”. Setelah mendengar suara tersebut, hati Syekh Bahauddin langsung bergetar dengan kencangnya, tubuhnya menggigil, perasaannya tidak menentu hingga beliau berjalan kesana kemari seperti orang bingung. Setelah merasa cukup tenang, Syekh Bahauddin menyiram tubuhnya lalu wudlu dan mengerjakan sholat sunah dua rokaat. Dalam sholat inilah beliau merasakan kekhusukan yang luar biasa, seolah-olah beliau berkomunikasi langsung dengan Allah Swt.

Saat Syekh Bahauddin mengalami jadzab1 yang pertama kali beliau mendengar suara, “Mengapa kamu menjalankan thoriq yang seperti itu ? “Biar tercapai tujuanku’, jawab Syekh Muhammad Bahauddin. Terdengar lagi suara, “Jika demikian maka semua perintah-Ku harus dijalankan. Syekh Muhammad Bahauddin berkata “Ya Allah, aku akan melaksanakan semampuku dan ternyata sampai 15 hari lamanya beliau masih merasa keberatan. Terus terdengar lagi suara, “Ya sudah, sekarang apa yang ingin kamu tuju ? Syekh Bahauddin menjawab, “Aku ingin thoriqoh yang setiap orang bisa menjalankan dan bisa mudah wushul ilallah”.

Hingga pada suatu malam saat berziarah di makam Syekh Muhammad Wasi’, beliau melihat lampunya kurang terang padahal minyaknya masih banyak dan sumbunya juga masih panjang. Tak lama kemudian ada isyarat untuk pindah berziarah ke makam Syekh Ahmad al Ahfar Buli, tetapi disini lampunya juga seperti tadi. Terus Syekh Bahauddin diajak oleh dua orang ke makam Syekh Muzdakhin, disini lampunya juga sama seperti tadi, sampai tak terasa hati Syekh Bahauddin berkata, “Isyarat apakah ini ?”

Kemudian Syekh Bahauddin, duduk menghadap kiblat sambil bertawajuh dan tanpa sadar beliau melihat pagar tembok terkuak secara perlahan-lahan, mulailah terlihat sebuah kursi yang cukup tinggi sedang diduduki oleh seseorang yang sangat berwibawa dimana wajahnya terpancar nur yang berkilau. Disamping kanan dan kirinya terdapat beberapa jamaah termasuk guru beliau yang telah wafat, Syekh Muhammad Baba.

Salah satu dari mereka berkata, “Orang mulia ini adalah Syekh Muhammad Abdul Kholiq al Ghojdawaniy dan yang lain adalah kholifahnya. Lalu ada yang menunjuk, ini Syekh Ahmad Shodiq, Syekh Auliya’ Kabir, ini Syekh Mahmud al Anjir dan ini Syekh Muhammad Baba yang ketika kamu hidup telah menjadi gurumu. Kemudian Syekh Muhammad Abdul Kholiq al Ghojdawaniy memberikan penjelasan mengenai hal-hal yang dialami Syekh Muhammad Bahauddin, “Sesunguhnya lampu yang kamu lihat tadi merupakan perlambang bahwa keadaanmu itu sebetulnya terlihat kuat untuk menerima thoriqoh ini, akan tetapi masih membutuhkan dan harus menambah kesungguhan sehingga betul-betul siap. Untuk itu kamu harus betul-betul menjalankan 3 perkara :

1. Istiqomah mengukuhkan syariat.

2. Beramar Ma’ruf Nahi mungkar.

3. Menetapi azimah (kesungguhan) dengan arti menjalankan agama dengan mantap tanpa memilih yang ringan-ringan apalagi yang bid’ah dan berpedoman pada perilaku Rasulullah Saw. dan para sahabat Ra.

Kemudian untuk membuktikan kebenaran pertemuan kasyaf ini, besok pagi berangkatlah kamu untuk sowan ke Syekh Maulana Syamsudin al An-Yakutiy, di sana nanti haturkanlah kejadian pertemuan ini. Kemudian besoknya lagi, berangkatlah lagi ke Sayyid Amir Kilal di desa Nasaf dan bawalah kopiah wasiat al Azizan dan letakkanlah dihadapan beliau dan kamu tidak perlu berkata apa-apa, nanti beliau sudah tahu sendiri”.

Syekh Bahauddin setelah bertemu dengan Sayyid Amir Kilal segera meletakkan “kopiah wasiat al Azizan” pemberian dari gurunya. Saat melihat kopiah wasiat al Azizan, Sayyid Amir Kilal mengetahui bahwa orang yang ada didepannya adalah syekh Bahauddin yang telah diwasiatkan oleh Syekh Muhammad Baba sebelum wafat untuk meneruskan mendidiknya.

Syekh Bahauddiin di didik pertama kali oleh Sayyid Amir Kilal dengan kholwat selama sepuluh hari, selanjutnya dzikir nafi itsbat dengan sirri. Setelah semua dijalankan dengan kesungguhan dan berhasil, kemudian beliau disuruh memantapkannnya lagi dengan tambahan pelajaran beberapa ilmu seperti, ilmu syariat, hadist-hadist dan akhlaqnya Rasulullah Saw. dan para sahabat. Setelah semua perintah dari Syekh Abdul Kholiq di dalam alam kasyaf itu benar–benar dijalankan dengan kesungguhan oleh Syekh Bahauddin mulai jelas itu adalah hal yang nyata dan semua sukses bahkan beliau mengalami kemajuan yang sangat pesat.

Jadi toriqoh An Naqsyabandiy itu jalur ke atas dari Syekh Muhammad Abdul Kholiq al Ghojdawaniy ke atasnya lagi dari Syekh Yusuf al Hamadaniy seorang Wali Qutub masyhur sebelum Syekh Abdul Qodir al Jailaniy. Syekh Yusuf al Hamadaniy ini kalau berkata mati kepada seseorang maka mati seketika, berkata hidup ya langsung hidup kembali, lalu naiknya lagi melalui Syekh Abu Yazid al Busthomi naik sampai sahabat Abu Bakar Shiddiq Ra. Adapun dzikir sirri itu asalnya dari Syekh Muhammad Abdul Kholiq al ghojdawaniy yang mengaji tafsir di hadapan Syekh Sodruddin. Pada saat sampai ayat, “Berdo’alah kepada Tuhanmu dengan cara tadhorru’ dan menyamarkan diri”…

Lalu beliau berkata bagaimana haqiqatnya dzikir khofiy /dzikir sirri dan kaifiyahnya itu ? jawab sang guru : o, itu ilmu laduni dan insya Allah kamu akan diajari dzikir khofiy. Akhirnya yang memberi pelajaran langsung adalah nabi Khidhir as.

Pada suatu hari Syekh Muhammad Bahauddin Ra. bersama salah seorang sahabat karib yang bernama Muhammad Zahid pergi ke Padang pasir dengan membawa cangkul. Kemudian ada hal yang mengharuskannya untuk membuang cangkul tersebut. Lalu berbicara tentang ma’rifat sampai datang dalam pembicaraan tentang ubudiyah “Lha kalau sekarang pembicaraan kita sampai begini kan berarti sudah sampai derajat yang kalau mengatakan kepada teman, matilah, maka akan mati seketika”. Lalu tanpa sengaja Syekh Muhammad Bahauddin berkata kepada Muhammad Zahid, “matilah kamu!, Seketika itu Muhammad Zahid mati dari pagi sampai waktu dhuhur.

Melihat hal tersebut Syekh Muhammad Bahauddin Ra. menjadi kebingungan, apalagi melihat mayat temannya yang telah berubah terkena panasnya matahari. Tiba-tiba ada ilham “He, Muhammad, berkatalah ahyi (hiduplah kamu). Kemudian Syekh Muhammad Bahauddin Ra. berkata ahyi sebanyak 3 kali, saat itulah terlihat mayat Muhammad Zahid mulai bergerak sedikit demi sedikit hingga kembali seperti semula. Ini adalah pengalaman pertama kali Syekh Muhammad Bahauddin Ra. dan yang menunjukkan bahwa beliau adalah seorang Wali yang sangat mustajab do’anya.

Syekh Tajuddin salah satu santri Syekh Muhammad Bahauddin Ra berkata, “Ketika aku disuruh guruku, dari Qoshrul ‘Arifan menuju Bukhara yang jaraknya hanya satu pos aku jalankan dengan sangat cepat, karena aku berjalan sambil terbang di udara. Suatu ketika saat aku terbang ke Bukhara, dalam perjalanan terbang tersebut aku bertemu dengan guruku. Semenjak itu kekuatanku untuk terbang di cabut oleh Syekh Muhammad Bahauddin Ra, dan seketika itu aku tidak bisa terbang sampai saat ini”.

Berkata Afif ad Dikaroniy, “Pada suatu hari aku berziarah ke Syekh Muhammad Bahauddin Ra. Lalu ada orang yang menjelek-jelekkan beliau. Aku peringatkan, kamu jangan berkata jelek terhadap Syekh Muhammad Bahauddin Ra. dan jangan kurang tata kramanya kepada kekasih Allah. Dia tidak mau tunduk dengan peringatanku, lalu seketika itu ada serangga datang dan menyengat dia terus menerus. Dia meratap kesakitan lalu bertaubat, kemudian sembuh dengan seketika.

SYECH MUHAMMAD BAHAU’UDDIN NAQSYABANDI DENGAN TAREKATNYA
Peletak dasar Thoriqoh Naqsyabandiyah ini adalah Al-Arif Billah Asy Syaikh Muhammad bin Muhammad Bahauddin Syah Naqsyabandi Al-Uwaisi Al- Bukhori radliyallahu anhu (717-865 H) .

Dijelaskan oleh Syaikh Abdul Majid bin Muhammad Al Khaniy dalam bukunya Al-Hada’iq Al-Wardiyyah , bahwa thoriqoh Naqsabandiyyah ini adalah thoriqohnya para sahabat yang mulia radlallahu anhum sesuai aslinya, tidak menambah dan tidak mengurangi. Ini merupakan untaian ungkapan dari langgengnya (terus menerus) ibadah lahir bathin dengan kesempurnaan mengikuti sunnah yang utama dan ‘azimah yang agung serta kesempurnaan dalam menjauhi bid’ah dan rukhshah dalam segala keadaan gerak dan diam, serta langgengnya rasa khudlur bersama Allah Subhanahu wa ta'ala, mengikuti Nabi Muhammad Shollallahu 'alaihi wa sallam dengan segala yang beliau sabdakan dan memperbanyak dzikir qalbi .

Dzikirnya para guru Naqsyabandiyah adalah qalbiyah (menggunakan Hati), dengan membaca lafadz “Alloh..Alloh” pada 7 tempat lathaif. Dengan itu mereka bertujuan hanya kepada Allah Subhanahu wa ta'ala semata dengan tanpa riya’ , dan mereka tidak mengatakan suatu perkataan dan tidak membaca suatu wirid kecuali dengan dalil atau sanad dari kitab Allah Subhanahu wa ta'ala atau sunnah Nabi Muhammad Shollallahu 'alaihi wa sallam. Adapun 7 macam lathaif tersebut adalah :
Lathifah al-qalb ada di bawah dada kiri, dua jari di bawah payudara … warnanya adalah kuning, dan dia adalah tempat kekuasaan Nabi Adam as, dan asalnya adalah air, udara dan tanah.
Lathifah al-ruh bertempat di sisi bawah susu kanan, berjarak sekitar dua jari, warnanya adalah merah, dan merupakan tempat kewenangan Nabi Ibrahhim dan Nuh, dan asalnya adalah api.
Lathifah al-sirr bertempat di atas susu kiri berjarak sekitar dua jari, warnanya adalah putih, tempat kekuasaan Nabi Musa dan asalnya adalah air.
Lathifah al-khafi bertempat di atas susu kanan, berjarak sekitar dua jari, warnanya adalah hitam, tempat kekuasaan Nabi Isa, dan asalnya adalah udara.
Lathifah al-akhfa bertempat di tengah dada, warnanya hijau, tempat kekuasaan Nabi Muhammad saw., asalnya adalah tanah.
Lathifatul al-Nafsi bertempat di anatara kedua mata kepala
Lathifatul Qolab (Jasad) bertempat di seluruh dan sekujur anggota badan, mulai rambut kepala sampai kaki

Dalam tarekat Naqsyabandi ini telah di ajarkan 11 asas dasar ajaran, yakni :
1). “Huwasy Dardam” , yaitu pemeliharaan keluar masuknya nafas, supaya hati tidak lupa kepada Allah SWT atau tetap hadirnya Allah SWT pada waktu masuk dan keluarnya nafas. Setiap murid atau salik menarikkan dan menghembuskan nafasnya, hendaklah selalu ingat atau hadir bersama Allah di dalam hati sanubarinya. Ingat kepada Allah setiap keluar masuknya nafas, berarti memudahkan jalan untuk dekat kepada Allah SWT, dan sebaliknya lalai atau lupa mengingat Allah, berarti menghambat jalan menuju kepada- Nya.

2). “Nazhar Bar qadlam” yaitu setiap murid atau salik dalam iktikaf/suluk bila berjalan harus menundukkan kepala, melihat ke arah kaki dan apabila dia duduk dia melihat pada kedua tangannya. Dia tidak boleh memperluas pandangannya ke kiri atau ke kanan, karena dikhawatirkan dapat membuat hatinya bimbang atau terhambat untuk berzikir atau mengingat Allah SWT. Nazhar Barqadlam ini lebih ditekankan lagi bagi pengamal tarikat yang baru suluk, karena yang bersangkutan belum mampu memelihara hatinya.

3). “Safar Dar wathan” yaitu perpindahan dari sifat kemanusiaan yang kotor dan rendah, kepada sifat-sifat kemalaikatan yang bersih dan suci lagi utama. Karena itu wajiblah bagi si murid atau salik mengontrol hatinya, agar dalam hatinya tidak ada rasa cinta kepada makhluk.

4). “Khalwat Dar jaman” yaitu setiap murid atau salik harus selalu menghadirkan hati kepada Allah SWT dalam segala keadaan, baik waktu sunyi maupun di tempat orang banyak. Dalam Tarikat Naqsyabandiyah ada dua bentuk khalwat :

a. Berkhalwat lahir , yaitu orang yang melaksanakan suluk dengan mengasingkan diri di tempat yang sunyi dari masyarakat ramai.

b. Khalwat batin , yaitu hati sanubari si murid atau salik senantiasa musyahadah, menyaksikan rahasia- rahasia kebesaran Allah walaupun berada di tengah- tengah orang ramai.

5). “Ya Dakrad” yaitu selalu berkekalan zikir kepada Allah SWT, baik zikir ismus zat (menyebut Allah, Allah,.), zikir nafi isbat (menyebut la ilaha ilallah), sampai yang disebut dalam zikir itu hadir.

6). “Bar Kasyat” yaitu orang yang berzikir nafi isbat setelah melepaskan nafasnya, kembali munajat kepada Allah dengan mengucapkan kalimat yang mullia

“Wahai Tuhan Allah, Engkaulah yang aku maksud (dalam perjalanan rohaniku ini) dan keridlaan-Mulah yang aku tuntut” . Sehingga terasa dalam kalbunya rahasia tauhid yang hakiki, dan semua makhluk ini lenyap dari pemandangannya.

7).“Nakah Dasyat” yaitu setiap murid atau salik harus memelihara hatinya dari kemasukan sesuatu yang dapat menggoda dan mengganggunya, walaupun hanya sebentar. Karena godaan yang mengganggu itu adalah masalah yang besar, yang tidak boleh terjadi dalam ajaran dasar tarikat ini.

Syekh Abu Bakar Al Kattani berkata, “Saya menjaga pintu hatiku selama 40 (empat puluh) tahun, aku tiada membukakannya selain kepada Allah SWT, sehingga menjadilah hatiku itu tidak mengenal seseorang pun selain daripada Allah SWT.”

Sebagian ulama tasawuf berkata “Aku menjaga hatiku 10 (sepuluh) malam, maka dengan itu hatiku menjaga aku selama 20 (duapuluh) tahun.”

8).“Bad Dasyat” yaitu tawajuh atau pemusatan perhatian sepenuhnya pada musyahadah, menyaksikan keindahan, kebesaran, dan kemuliaan Allah SWT terhadap Nur Zat Ahadiyah (Cahaya Yang Maha Esa) tanpa disertai dengan kata- kata. Keadaan “Bad Dasyat” ini baru dapat dicapai oleh seorang murid atau salik, setelah dia mengalami fana dan baka yang sempurna. Adapun tiga ajaran dasar yang berasal dari Bahauddin Naqsyabandi adalah,

9).“Wuquf Zamani” yaitu kontrol yang dilakukan oleh seorang murid atau salik tentang ingat atau tidaknya ia kepada Allah SWT setiap dua atau tiga jam. Jika ternyata dia berada dalam keadaan ingat kepada Allah SWT pada waktu tersebut, ia harus bersyukur dan jika ternyata tidak, ia harus meminta ampun kepada Allah SWT dan kembali mengingat- Nya.

10).“Wuquf ‘Adadi” yaitu memelihara bilangan ganjil dalam menyelesaikan zikir nafi isbat, sehingga setiap zikir nafi isbat tidak diakhiri dengan bilangan genap. Bilangan ganjil itu, dapat saja 3 (tiga) atau 5 (lima) sampai dengan 21 (duapuluh satu), dan seterusnya.

11).“Wuquf Qalbi” yaitu sebagaimana yang dikatakan oleh Syekh Ubaidullah Al- Ahrar, “Keadaan hati seorang murid atau salik yang selalu hadir bersama Allah SWT”. Pikiran yang ada terlebih dahulu dihilangkan dari segala perasaan, kemudian dikumpulkan segenap tenaga dan panca indera untuk melakukan tawajuh dengan mata hati yang hakiki, untuk menyelami makrifat Tuhannya, sehingga tidak ada peluang sedikitpun dalam hati yang ditujukan kepada selain Allah SWT, dan terlepas dari pengertian zikir.

Selain itu, dalam tarekat ini juga dikenalkan akan tehnik muroqobah, sebanyak 20 macam muroqobah

Demikian kisah keramatnya Syekh Muhammad Bahauddin Ra dan ajaran-ajarannya. Rodiyallah ‘anhu wa a’aada a‘lainaa min barokaatihi wa anwaarihi wa asroorihii wa ‘uluumihii wa akhlaaqihi allahuma amiin.

Sabtu, 13 Juli 2013

SILSILAH THORIQOH ANNAQSABANDIYAH


Silsilah Masyayikh Ahli Toriqoh AnNaqsabandiyyah
1. Gus Multazam ,popongan ,wonosari ,klaten.
2. dari Syeh Muhammad Salman Dahlawi
3. dari Syeh Mansur
4. dari Syeh Muhammad Alhadi
5. dari Syeh Sulaiman Azzuhdi
6. dari Syeh Isma'il Albarusi
7. dari Syeh Sulaiman Alquroimi
8. dari Syeh Kholid Albaghdadi
9. dari Syeh Abdillah Addahlawi
10. dari Syeh Chabibillah
11. dari Syeh Nur Muhammad Albadwani
12. dari Syeh Saifuddin
13. dari Syeh Muhammad Ma'sum
14. dari Syeh Ahmad Alfaruqi
15. dari Syeh Muhammad Albaqi Billah
16. dari Syeh Muhammad Alkhowajiki
17. dari Syeh Darwis Muhammad
18. dari Syeh Muhammad Azzahid
19. dari Syeh 'Ubaidillah Al achrori
20. dari Syeh Ya'kub Aljarchi
21. dari Syeh Muhammad ibn 'Alaiddin Al'aththori
22. dari Syeh MUCHAMMAD BAHAUDDIN ANNAQSABANDI
23. dari Syeh Amir Kullal
24. dari Syeh Muhammad Baba Assamasi
25. dari Syeh 'Ali Arrumaitini
26. dari Syeh Machmud Al anjiri Faghnawi
27. dari Syeh 'Arif Arriwikari
28. dari Syeh 'ABDUL KHOLIQ AL GHOJDUWANI
29. dari Syeh Yusuf Alhamadani
30. dari Syeh Abi 'Ali Alfadlol
31. dari Syeh AbilChasan 'Ali ALkhorqoni
32. dari Syeh Abi yazid thoifur ALbisthomi
33. dari Syeh Ja'far Shodiq
34. dari Syeh Qosim bin Muchammad
35. dari SHOCHABAT SALMAN ALFARISI R.A
36. dari SHOCHABAT ABU BAKAR ASHSHIDDIQ R.A
37. dari ROSULILLAH SAYYIDINA MUCHAMMAD S.A.W
38. dari Malaikat JIBRIL A.S
39. dari ALLOH 'AZZA WAJALLA

Rabu, 09 November 2011

CELAKA BAGI PENGUMPUL HARTA


بسم الله الرحمنٰ الرحيم
الحمدُلله ولا حول ولا قوة الا بالله. والصلاة والسلام على سيدنا محمد واٰله وصحبه

وأنفقوا فى سبيل الله ولاتلقوا بأيديكم إلى التهلكة وأحسنوا إن الله يحب المحسنين
Al murod:   “Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Alloh swt.,dan janganlah menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah karena sesungguhnya Alloh swt menyukai orang-orang yang berbuat baik”(Q.s. Albaqoroh ayat 195)
Hudzaifah r.a. berkata bahwa yang dimaksud dengan janganlah menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan adalah tidak mau menginfaqkan harta di jalan Alloh karena takut miskin.
Dhahhak bin jubair r.a berkata bahwa orang-orang ansor selalu membelanjakan harta di jalan Alloh swt dan selalu bersedekah. Pernah suatu ketika, pada saat terjadi kelaparan selama setahun, pikiran mereka menjadi kalut sehingga mereka tidak mau menginfaqkan harta di jalan Alloh swt. Terhadap peristiwa inilah ayat tersebut diturunkan.
ويسىٔلونك ما ذا ينفقون قل العفو
Almurod: “Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) apa yang mereka infaqkan. Katakanlah:   العفو   (yang lebih dari keperluan).” (Q.s. Albaqoroh; 219).
Ibnu Abbas r.a berkata: “  العفو  adalah harta yang berlebih setelah dinafkahkan kepada keluarga.”
Sebagian ulama mengatakan yg dimaksud العفو  adalah mudah,yakni menginfaqkan hartanya dengan mudah, sehingga setelah menginfaqkan harta tidak menjadi susah,yakni menyulitkan kehidupannya didunia,dan karena mengabaikan hak orang lain (yang menjadi tanggung jawabnya) ia akan mengalami penderitaan di akhirat.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a bahwa ada orang-orang yang yang selalu bersedekah denga berlebih hingga tidak ada sisa untuk makan bagi dirinya sendiri, sehingga orang lain harus memberikan sedekah untuknya. Ayat tersebut turun sehubungan adanya peristiwa ini.
Dalam sebuah chadist diterangkan bahwa ketika ayat من جاء بالحسنة فله عشر أمثلها
( Siapa yang melakukan kebaikan, maka baginya pahala sepuluh kali lipat) diturunkan,maka Rosulloh saw berdoa: “Ya Alloh, lebihkanlah pahala bagi umatku lebih banyak lagi.” Maka kemudian turunlah ayat:
من ذا الذى يقرض الله قرضا حسنا فيضٰعفه له أضعافا كثيرة والله يقبض ويبسط وإليه ترجعون
Al murod: “Siapakah yang mau memberikan pinjaman kepada Alloh pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya dijalan Alloh), maka Alloh swt akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan berlipat ganda. Dan Alloh swt yang menyempitkan dan melapangkan (rizqi), dan kepada-Nyalah kalian dikembalikan.” (Al-Baqoroh: 245)
Menginfaqkan harta di jalan Alloh swt diibaratkan seperti memberi pinjaman. Jika pinjaman pasti akan dikembalikan, demikian pula halnya dengan membelanjakan harta dijalan Alloh, orang yang membelanjakan hartanya pasti akan memperoleh pahala dan balasan dari Alloh.
Banyak sekali Ayat-ayat AL-Quran yang menyuruh kita menginfaqkan harta di jalan Alloh. Maka tidaklah samar lagi keutamaannya.
Apalagi jika harta kita ,kita nafaqohkan untuk sesuatu yang tahan lama, misal untuk membangun TPQ ataupun Masjid. Selama TPQ itu digunakan, maka penginfaq (penyumbangnya) selalu mendapat pahala. Pahala ini akan terus mengalir pada penginfaqnya. Walaupun penginfaqnya telah wafat. Inilah kenapa disebut amal جارية (yang mengalir).
Kebalikannya, dalam surat AL_Humazah diterangkan:
ويل لكل همزة لمزة
Almurod:
“Kecelakaan besarlah (ada yang ngartikan: Neraka wel) bagi setiap همزة لمزة
Siapakah همزة لمزة ? Dalam ayat selanjutnya diterangkan;
الذي جمع مالا وعدده
AL-Murod:
“Yang mengumpulkan harta dan menghitung hitungnya.”
Jujur ataupun tidak, kita suka menghitung hitung harta. Gajian satu bulan 1 juta, dikumpulkan selama 5 bulan, dihitung jadi 5 juta, kelak bisa untuk beli tanah seharga 20 juta, berati kurang 15 jt,dll. Maka, kita menabung untuk masa depan ataupun untuk sebuah cita-cita; membeli tanah ladang, rumah, mobil, motor dll. Tanpa terasa,kita menjadi kikir, pelit, tidak mau menafkahkan harta dijalan Alloh swt. Orang orang yang seperti ini, mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya, oleh Alloh di siapkan tempat di neraka Wel. YA, Neraka wel bagi orang-orang yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya. Apakah harta akan bisa menolong di aherat kelak? Apakah harta dibawa mati?
Hanya harta yang dinafaqohkan dijalan Allohlah yang bisa menolong di ahirat.  Bukan harta yang ditinggal mati dan dibagi-bagi untuk anak,bahkan ada yang diperebutkan oleh anak anak si mati, bahkan ada yang digunakan untuk kemaksiatan. Kelak si mati akan menangis pilu karena menyesal, kenapa didunia hartanya tidak dinafaqohkan di jalan ALLOH. Ketika si mati menangis pilu, siksa kubur dan siksa nerakapun semakin menyiksa dohir batinnya...

Kamis, 27 Oktober 2011

DZULHIJJAH YANG MULIA



KEUTAMAAN BULAN DZIL HIJJAH


 بسم الله الرحمن الرحيم

والفجر وليال عشر والشفع والوتر والليل إذا يسر هل فىى ذٰلك قسم لذى حجر...  الأية
  

Artinya: "Demi waktu fajar, demi malam yang sepuluh, demi yang genap dan demi yang ganjil, demi malam bila telah lewat, apakah dalam yang demikian itu ada sumpah bagi orang yang berakal..."  (al ayah)
Dari Hasan Bin Aly dia berkata: “Apa bila engkau masuk ke masjid, maka bersalamlah kepada Nabi ‘alaihish sholatu wassalam, karena sesungguhnya Rosululloh ‘alaihi sholatu wassalam telah bersabda: “Janganlah kamu sekalian menjadikan rumahku Hari raya, dan jangan pula kamu sekalian menjadikan rumah rumahmu sebagai kuburan, bahkan bacalah olehmu sekalian sholawat untuk saya dimanapun kamu sekalian berada. Karena sesungguhnya solawatmu itu sampai kepada saya”.”

Sobat,,telah datang bulan yang dimuliakan Alloh ‘azza wajalla yaitu bulan Dzil hijjah. Diriwayatkan:  “ Sungguh Alloh ta’ala telah memilih tiga sepuluh dari satu tahun; 
1. Sepuluh hari terahir dalam bulan romadhon.
2. Sepuluh hari Bulan Dzilhijjah (bulan kurban), karena didalamnya terdapat        hari tarwiyah , hari ‘arofah dan hari kurban.
3. Sepuluh hari bulan muharrom. Karena didalamnya terdapat berapa berkah dari ‘asyuro.

Dalam sebuah chadist:
من صام يوم عرفة من ذى الحجة كتب الله تعالى له صيام ستين سنة. وكتبه الله من القانتين

Al murod: “Barang siapa berpuasa di hari ‘arofah dari bulan dzilhijjah, maka Alloh ta’ala mencatat baginya pahala puasa enam puluh tahun, dan dicatat oleh Alloh termasuk golongan orang orang yang bertaat.”

Sabda Nabi Ashsholatu ‘alaihi wassalam
ما من ايام احب الى الله ان يعبد فيها من عشر ذى الحجة يعدل صوم كل يوم منها صيام سنة وقيام كل ليلة منها قيام ليلة القدر
Almurod: “Tidak ada hari-hari yang lebih disukai oleh Alloh dikala Dia disembah dari pada sepuluh hari pada bulan Dzilhijjah; berpuasa setiap hari dari padanya sebanding dengan puasa setahun. Dan berdiri mengerjakan sholat setiap malam dari padanya sebanding dengan solat pada malam lailatul qodar.”

Dalam sebuah chadist diterangkan bahwa Nabi Musa as berkata: “Wahai Tuhanku, aku telah berdoa dan Engkau belum mengabulkan do’aku; maka berilah aku suatu ilmu untuk berdoa kepadamu.”
Alloh memberi wahyu: “Hai musa,apabila kamu telah masuk dalam hari hari yang sepuluh dari bulan dzilchijjah, bacalah: لا اله الا الله (tidak ada Tuhan kecuali Alloh), maka aku kabulkan hajatmu”.
Kata Musa as(Biasa pemimpin bani israel waktu itu jg suka bertanya,ndebat): “Tuhanku, semua hambaMu sudah membacanya”.
Firman Alloh: “ Hai musa, barang siapa membaca لا اله الا الله pada hari ini (hari sepuluh dzulhijjah) sekali saja , sekiranya 7 langit dan 7 bumi diletakkan dipiring timbangan dan لا اله الا الله dipiring yang satunya, niscaya dia لا اله الا الله itu lebih berat dan berbobot mengalahkan semuanya”.


Dalam sebuah hadist yg panjang ( ora tek tulislah,kesel jg,trus lama) almuroduh:

“ Diriwayatkan oleh ibnu Abbas dari Nabi SAW,bahwa sesungguhnya beliau bersabda:
 ” Hari disaat mana Alloh mengampuni Nabi Adam as adalah hari pertama bulan dzulhijjah, barang siapa berpuasa hari itu maka Alloh mengampuni segala dosanya.

Pada hari ke 2, الله تعالى   mengabulkan doa Nabi Yunus as dan mengeluarkannya dari perut ikan. Siapa  saja yang puasa di hari itu maka seperti orang yang beribadah kepada  الله تعالى selama satu tahunserta tidak mendurhakai  الله تعالى  dalam ibadahnya meskipun sekejap mata.

Pada hari ke 3;  الله تعالى mengabulkan doa Nabi Zakariya as. Siapa saja yang puasa di hari itu, maka  الله تعالى mengabulkan doanya.

Pada hari ke 4; Nabi Isa as dilahirkan. Siapa saja yang berpuasa pada hari itu maka  الله تعالى menghilangkan kesusahanya dan kefakirannya, dan dia kelak di hari kiamat bersama orang orang yang pergi yang baik baik dan yang sama mulia.

Hari ke 5; Nabi musa as dilahirkan. Siapa saja yang berpuasa di hari ini, maka  الله تعالى membebaskan dia dari kemunafikan dan siksa kubur.

Pada hari ke 6;   الله تعالى telah membuka kebaikan untuk NabiNya. Siapa yg berpuasa di hari itu maka الله تعالى memperhatikannya denga kasih sayang dan dia tidak disiksa sesudah itu.

Pada hari ke 7;  Semua Pintu jahannam ditutup dan tidak dibuka sehingga berlalu hari yang sepuluh itu. Siapa yg berpuasa dihari tersebut, maka الله تعالى menghindarkan daripadanya tiga puluh pintu kesukaran dan membukakan baginya tiga puluh pintu kemudahan.

Pada hari ke 8 dinamakan Hari Tarwiyah. Siapa puasa dihari ini maka diberi pahala yang hanya diketahui oleh  الله تعالى  sendiri.

Pada hari ke 9 dinamakan hari ‘Arofah. Siapa berpuasa dihari ini maka sebagai tebusan dosanya pada tahun yang telah lewat dan yang akan datang. Dan pada hari itu juga telah diturunkan ayat: “ Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagimu agamamu dan Aku sempurnakan pula nikmatKu kepadamu”.

Pada hari ke 10; Siapa saja yang berkurban dengan suatu kurban, maka mulai tetesan tetesan darah yang terjatuh di tanah, الله تعالى mengampuni semua dosanya dan dosa dosa keluarganya, dan siapa saja yang memberi makan orang mu’min atau bersedekah dengan suatu pemberian, maka الله تعالى membangkitkannya pada hari kiamat dengan selamat dan timbangannyapun menjadi lebih berat dari pada gunung uhud.”


Qola Sunan: “ Sungguh banyak lagi riwayat yang belum ingsun tulis, nanging ingsun cukupke semanten. Marilah kita berpuasa walau hanya satu hari saja dihari yg utama tadi. Semoga bermanfaat. Amin.”


Senin, 24 Oktober 2011

BERAPA LAMAKAH KITA HIDUP DIDUNIA???


بسم الله الرحمن الرحيم





ويستعجلونك بالعذاب ولن يخلف الله وعده وإن يوما عند ربك كألف سنة مما تعدون

47. dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, Padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari disisi Tuhanmu adalah seperti seribu menurut perhitunganmu. Surat Al hajj ayat 47.

Sehari di sisi Alloh adalah seribu tahun menurut hitungan kita mausia. Seribu tahun menurut kita manusia cuma satu hari saja disisi Alloh. Itu berarti, 1 jam disisi Alloh menurut hitungan manusia adalah 83,33 tahun. Karena 1 hari itu 12 jam, kalau 1 hari 1 malam baru 24 jam. Jadi menghitungnya, 1000 : 12. 
Begitu juga alam malakut yg dihuni para malaikat, 1 hari disana kalau menurut hitungan kita ya 1000 tahun.

Padahal hidup kita paling paling cuma 65 tahun sudah awet tuh,,he he he.. Ayo siapa yang mau hidup 100 tahun? Kayaknya ogah,soalnya cuma jadi ngerepoti orang lain. Jika hidup kita cuma 65 tahun trus mati, itu berarti menurut para malaikat kita cuma hidup gak ada 1 jam. Tidak ada 1 jam,coy. Bayangkan , kita hidup tidak ada 1 jam. Cuma beberapa menit, paling cuma 45 menit. Ya, betul 45 menit. 

Di hidup kita yang sementara ini, yaitu cuma 45 menit, kadang kita tidak sabar. Kita berontak, yang diberi miskin, pengin kaya sampai menyembah demit jin dan mengorbankan anak dan diri sendiri, yaitu setelah mati jadi pengikut demit dan jadi budaknya. 
Ada lagi yang pengen mati dengan bunuh diri karena tidak sabar menghadapi cobaan hidup.
Mungkin jika malaikat punya nafsu akan mengolok olok manusia ini: " wong - wong, urip mung gari 20 menit bae wis ora sabar. Ha ha ha.."
Becanda ki, ya tentu malaikat ga kan menghina, beda dengan kita manusia yang suka menghina orang lain karena punya nafsu dan karena kita BODOH.

Yang lebih dasyat lagi, hidup yang cuma 45 menit ini jika kita tergelincir ke lembah dosa, hukumannya adalah ribuan tahun di neraka ( di neraka 1 hari tu, sama dengan 1000 tahun juga), bahkan ada yang kekal di neraka. Na'udzu billah.

واولىٕك اصحاب النار هم فها خالدون : Dan mereka (orang kafir) adalah penghuni neraka, mereka kekal didalamnya. Ali imron ayat 116.


 Ya sudah, karena kita pernah syahadat waktu nikah dulu, dan selalu berbuat baik pada orang lain, tidak pernah nyakiti orang, tidak pernah menggunjing orang ( gak tau ngrasani), tak pernah nyuri apalagi korup, Maka Alloh SWT berbaik hati, cuma menghukum di neraka 1 hari saja. Alangkah malang nasib kita 45 menit menjalani hidup (Protes: waktu kecil udah lupa, gak merasa hidup, q merasa hidup sejak umur 10 tahun. Jawab: ya berarti ente cuma merasa hidup 38 menit), di balas 1 hari di neraka yang sama dengan 1000 tahun.

Apakah anda yakin cuma akan dihukum satu hari saja oleh Alloh?
Ada sebuah chadist sohih yang bisa kita jadikan tolak ukur seberapa lama kita di neraka kelak. Sabda Nabi:
من قبل غلاما بشهوة عذبه الله تعالى فى النار ألف سنة

Artinya: Siapa saja yang mencium anak muda dengan syahwat, maka Alloh menyiksanya di dalam neraka seribu tahun.

Mencium dihukum 1000 tahun di neraka. Lah kalau yang lain lain, misal nyuri yang jelas merugikan orang lain dengan harta jadi berkurang, atau mabok yang jelas - jelas dilarang oleh agama, pemerintah, orang tua dll, atau kita males solat yang jelas itu perintah Alloh, Perintah rosul, perintah ortu, perintah guru perintah negara.(upz,berapa perintah yg ente langgar tuh !)

Jangan fatalkan tindakan kita. Yang sudah, sudahlah, karena kita bodoh. Tapi kedepan perbaikilah langkah jangan sampai tergelincir ke lembah dosa lagi. Maka Alloh dengan sifat kasih sayangnya akan mengampuni dosa kita. Ya kalau pun Tidak diampuni, mampir ke nerakanya 1 hari aja lah.... 

Ingat, menurut perhitungan Alloh dan Malaikat, kita hanya hidup beberapa menit TOK.