بسم الله الرحمنٰ الرحيم
الحمدُلله ولا حول ولا قوة الا بالله. والصلاة
والسلام على سيدنا محمد واٰله وصحبه
وأنفقوا فى سبيل الله ولاتلقوا بأيديكم
إلى التهلكة وأحسنوا إن الله يحب المحسنين
Al murod: “Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan
Alloh swt.,dan janganlah menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan
berbuat baiklah karena sesungguhnya Alloh swt menyukai orang-orang yang berbuat
baik”(Q.s. Albaqoroh ayat 195)
Hudzaifah r.a. berkata bahwa yang
dimaksud dengan janganlah menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan adalah
tidak mau menginfaqkan harta di jalan Alloh karena takut miskin.
Dhahhak bin jubair r.a berkata
bahwa orang-orang ansor selalu membelanjakan harta di jalan Alloh swt dan
selalu bersedekah. Pernah suatu ketika, pada saat terjadi kelaparan selama
setahun, pikiran mereka menjadi kalut sehingga mereka tidak mau menginfaqkan
harta di jalan Alloh swt. Terhadap peristiwa inilah ayat tersebut diturunkan.
ويسىٔلونك ما ذا ينفقون قل العفو
Almurod: “Dan mereka bertanya
kepadamu (Muhammad) apa yang mereka infaqkan. Katakanlah: العفو (yang
lebih dari keperluan).” (Q.s. Albaqoroh; 219).
Ibnu Abbas r.a berkata: “ العفو adalah
harta yang berlebih setelah dinafkahkan kepada keluarga.”
Sebagian ulama mengatakan yg
dimaksud العفو adalah mudah,yakni menginfaqkan hartanya
dengan mudah, sehingga setelah menginfaqkan harta tidak menjadi susah,yakni
menyulitkan kehidupannya didunia,dan karena mengabaikan hak orang lain (yang
menjadi tanggung jawabnya) ia akan mengalami penderitaan di akhirat.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a
bahwa ada orang-orang yang yang selalu bersedekah denga berlebih hingga tidak
ada sisa untuk makan bagi dirinya sendiri, sehingga orang lain harus memberikan
sedekah untuknya. Ayat tersebut turun sehubungan adanya peristiwa ini.
Dalam sebuah chadist diterangkan
bahwa ketika ayat من جاء بالحسنة فله
عشر أمثلها
( Siapa yang melakukan kebaikan,
maka baginya pahala sepuluh kali lipat) diturunkan,maka Rosulloh saw berdoa:
“Ya Alloh, lebihkanlah pahala bagi umatku lebih banyak lagi.” Maka kemudian
turunlah ayat:
من ذا الذى يقرض الله قرضا حسنا فيضٰعفه له أضعافا كثيرة والله يقبض
ويبسط وإليه ترجعون
Al murod: “Siapakah yang mau memberikan
pinjaman kepada Alloh pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya dijalan Alloh),
maka Alloh swt akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan berlipat
ganda. Dan Alloh swt yang menyempitkan dan melapangkan (rizqi), dan
kepada-Nyalah kalian dikembalikan.” (Al-Baqoroh: 245)
Menginfaqkan harta di jalan Alloh swt
diibaratkan seperti memberi pinjaman. Jika pinjaman pasti akan dikembalikan,
demikian pula halnya dengan membelanjakan harta dijalan Alloh, orang yang
membelanjakan hartanya pasti akan memperoleh pahala dan balasan dari Alloh.
Banyak sekali Ayat-ayat AL-Quran yang menyuruh
kita menginfaqkan harta di jalan Alloh. Maka tidaklah samar lagi keutamaannya.
Apalagi jika harta kita ,kita nafaqohkan untuk
sesuatu yang tahan lama, misal untuk membangun TPQ ataupun Masjid. Selama TPQ
itu digunakan, maka penginfaq (penyumbangnya) selalu mendapat pahala. Pahala
ini akan terus mengalir pada penginfaqnya. Walaupun penginfaqnya telah wafat.
Inilah kenapa disebut amal جارية (yang mengalir).
Kebalikannya, dalam surat
AL_Humazah diterangkan:
ويل لكل همزة لمزة
Almurod:
“Kecelakaan besarlah (ada yang ngartikan:
Neraka wel) bagi setiap همزة
لمزة”
Siapakah همزة لمزة ? Dalam ayat selanjutnya diterangkan;
الذي جمع مالا وعدده
AL-Murod:
“Yang mengumpulkan harta
dan menghitung hitungnya.”
Jujur ataupun tidak, kita
suka menghitung hitung harta. Gajian satu bulan 1 juta, dikumpulkan selama 5
bulan, dihitung jadi 5 juta, kelak bisa untuk beli tanah seharga 20 juta,
berati kurang 15 jt,dll. Maka, kita menabung untuk masa depan ataupun untuk
sebuah cita-cita; membeli tanah ladang, rumah, mobil, motor dll. Tanpa terasa,kita
menjadi kikir, pelit, tidak mau menafkahkan harta dijalan Alloh swt. Orang
orang yang seperti ini, mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya, oleh Alloh
di siapkan tempat di neraka Wel. YA, Neraka wel bagi orang-orang yang
mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya. Apakah harta akan bisa menolong di
aherat kelak? Apakah harta dibawa mati?
Hanya harta yang dinafaqohkan
dijalan Allohlah yang bisa menolong di ahirat.
Bukan harta yang ditinggal mati dan dibagi-bagi untuk anak,bahkan ada
yang diperebutkan oleh anak anak si mati, bahkan ada yang digunakan untuk
kemaksiatan. Kelak si mati akan menangis pilu karena menyesal, kenapa didunia
hartanya tidak dinafaqohkan di jalan ALLOH. Ketika si mati menangis pilu, siksa
kubur dan siksa nerakapun semakin menyiksa dohir batinnya...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar