بسم الله الرحمن الرحيم
Ihya juz 4 Hal 172
Maka jika kamu berkata: Apakah
sebab yang bisa mendatangkan kepada su-ul khotimah?
Ketahuilah, sebab-sebab perkara
ini (suul khotimah) itu tidak mungkin dihitung dengan terperinci. Tetapi
memungkinkan untuk memberi petunjuk kepada kumpulan-kumpulanya. Adapun ahir
hidup dengan keadaan الشك والجحود
(keraguan dan ingkar), maka sebabnya dihitung dalam dua perkara,
Yang pertama dari dua perkara ini
tergambar beserta sempurnanya sifat waro’ dan zuhud dan kesempurnaan kesolehan
didalam ‘amal. Seperti orang yg Ahli bid’ah yang zuhud. Karena sesungguhnya
ahir hidupnya sungguh sangat menghawatirkan, walaupun amal-amalnya soleh. Dan tidaklah
saya memaksudkan pada madzhab. Selanjutnya saya berkata: Sesungguhnya amal-amal
ibadahnya dia (ahli ibadah ini) adalah bid’ah . Maka sesungguhnya penjelasan
bid’ah didalam ‘amal soleh adalah memperpanjang perkataan didalamnya. Akan
tetapi saya memaksudkan dengan bid’ah
pada i’tiqod(kepercayaan) seseorang
didalam dzat Alloh, sifatNya dan af’alNya (pekerjaanNya) dengan i’tiqod yang
bertentangan dengan i’tiqod yang benar (الحق). Maka kepercayaannya pada Alloh bertentangan (berbeda) dengan
keadaan sebenarnya Alloh. Ada kalanya sebab akalnya dan yang dinalarnya dan
sebab pemikirannya yang dengannya dia mendebat musuh, dan padanya
(pemikirannya) dia bergantung, dan dengannya Ia tertipu. Dan adakalanya karena mengambil i'tiqod dengan jalan bertaklid pada orang yang kei'tiqodanya juga bid'ah. Maka ketika kematian telah dekat dan ubun ubun malaikat maut telah nampak olehnya, dan telah bergoncang hatinya dengan apa yang ada di dalamnya, maka terkadang tersingkap baginya--dalam keadaan sekarat pati-- batalnya apa yang Ia i'tiqodi karena bodoh. Karena situasi kematian adalah keadaan tersingkapnya penutup. Dan permulaan dari sekarat pati darinya maka terkadang tersingkap --karena sekarat-- sebagian beberapa perkara. Dan tatkala (setelah tersingkap) menurutnya telah batal apa yang telah Ia i'tiqodi, padahal (sebelum sekarat datang) Ia memastikan (kebenaran) i''tiqodnya dan sangat meyakininya dalam dirinya, maka Ia tidak menyangka sama sekali bahwa (ternyata sekarang) Ia salah/luput dalam i,tiqodnya ini, hususnya karena Ia mengungsi dalam beri'tiqod kepada penalaranya yang rusak dan pada akalnya yang kurang. Bahkan (setelah Ia terpana bahwa i'tiqodnya ini salah dan batal,sekarang) Ia menyangka bahwa semua i'tiqodnya tidak ada landasanya sama sekali, karena tidak ada perbedaan disisinya antara keimanannya pada Alloh dan rosulNYa dan semua i'tiqodnya yang benar dan antara i'tiqodnya yang rusak. Maka terbukanya sebagian i'tiqodnya dari tirai kebodohan ,itu menjadi sebab Ia menganggap batal semua sisa i'tiqodnya atau menjadi sebab keraguannya dalam semua sisa i'tiqodnya.
Maka jika keluarnya ruh dalam keadaan yang menghawatirkan ini (yaitu hatinya menganggap semua i'tiqodnya batal atau ragu dengan i'tiqodnya) sebelum ia menetapkan (memantapkan hati) atau kembali kepada asal(pokok) iman, maka sungguh ia berahir(meninggal dunia) dengan su-ul khotimah(mati elek), dan keluarlah ruh dengan menunggang syirik. " meminta perlindugan itu kepada Alloh dari mati seperti ini".
Mereka inilah yang dimaksudkan oleh Firman Alloh dalam surat Az Zumar ayat 47
Maka jika keluarnya ruh dalam keadaan yang menghawatirkan ini (yaitu hatinya menganggap semua i'tiqodnya batal atau ragu dengan i'tiqodnya) sebelum ia menetapkan (memantapkan hati) atau kembali kepada asal(pokok) iman, maka sungguh ia berahir(meninggal dunia) dengan su-ul khotimah(mati elek), dan keluarlah ruh dengan menunggang syirik. " meminta perlindugan itu kepada Alloh dari mati seperti ini".
Mereka inilah yang dimaksudkan oleh Firman Alloh dalam surat Az Zumar ayat 47
وبدا لهم من الله ما لم يكونوا يحتسبون....
Artinya: Dan jelaslah bagi mereka azab dari Alloh yang dahulu tidak
pernah mereka perkirakan.
Dan juga dalam Surat Al Kahfi ayat 103 dan 104
قل هل
نُنبّىٔكم بالأخسرين أعمالا. الذين ضلّ سعيهم فى الحياة الدنيا وهم
يحسبون أنهم يُحسنون صنعا
Artinya: Katakanlah(Muhammad), “Apakah
perlu kami beritahukan kepadamu tentang orang yang paling rugi perbuatanya?”(ayat
103)
(Yaitu) Orang yang sia-sia
perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira telah berbuat
sebaik baiknya. (ayat 104)

NEK komen masuk pa ora?
BalasHapus