Mungkin ada yang hatinya bergumam ketika membaca artikel
tentang kematian: “Lah asih enom be !(Ah masih muda,, ngapain mengingat
kematian,,yang penting heppiii..)”
Nah ini dia, sebenarnya dalam diri manusia ada banyak
sisi,sebut saja: Hati nurani(Qolb),Pemikir(‘aql),Nafsu dan ada pembisik yang
ada 3 jenis yaitu: Malaikat , Setan jin dan Setan manusia. Atau dua pembisik
yaitu Malaikat dan Setan seperti dalam chadist qudsi: “Sesungguhnya hambaKu ada
diantara dua jariKu (Malaikat dan Setan ibarat dua jari Alloh yang membisiki
tiap keputusan hamba)”. Dengan banyaknya sisi dalam diri manusia ini,manakah
yang paling utama? Manakah yang diUtamaka? Manakah yang dipandang oleh Alloh
Azza wa Jalla? Sabda Nabi: “ Sesungguhnya yang dipandang oleh Alloh bukanlah
Rupa dan pekerjaan kalian tetapi Alloh memandang Hati kalian.”(Chadist ini
termuat di Ichya). Untuk itu sebenarnya Hatilah yang berhak menuntun Ruh
manusia menuju Robbnya dengan dibantu aql(pikiran). Akan tetapi kenyataanya
lain. Dari kecil manusia dididik oleh orang tua dan lingkungan untuk menuruti
hawa nafsu(keinginan nafsu). Di sekolahan pun dididik menuruti hawa nafsu.
Lihatlah pendidikan anak kecil di lingkungan kita,tiap lebaran orang-orang
memberikan uang untuk sikecil padahal sikecil belum tahu apa guna uang. Ada
lagi orang dewasa karena gemes pengen membopong sikecil,maka merayu: “Ayo-ayo
ikut om,tar tak belikan jajan”. Di Sekolah Dasar diharuskan Seragam dengan
rapih dan bersih padahal anak kelas 1 kan belum tahu mejeng(basa jawa untuk
istilah kerapian agar bisa menggaet,memikat lawan jenis) dan belum tahu apa
hakikat dari berpakaian. Belum lagi penjejalan-penjejalan stasiun televisi yang
selalu saja mendidik pemuasan hawa nafsu dengan sinetronnya,iklannya,gaya hidup
selebritinya,britanya dll. Ini semua contoh kecil dari pendidikan yang
memanjakan nafsu dan mengarahkan hamba(‘abd) pada cinta dunya. Jika Anda
berumur 25 tahun berarti anda telah mengenyam pendidikan menuruti hawa nafsu
selama 24 tahun.
Jadi sungguh tidak mengherankan jika kamu berkata: “Ngapain
inget mati,yang penting hepi!”. Menuruti hawa nafsu adalah sudah watak Anda.
Dalam ajaran Nabi Daud as dikatakan: Untuk membentuk watak haruslah ada usaha
keras dari memaksa melakukan, melakukan, biasa melakukan, terbiasa melakukan,
dan maka jadilah watak. Contoh mudah adalah merokok,banyak dari pecandu rokok
yang awal awalnya adalah terpaksa merokok atau Cuma coba-coba merokok yang
tentu tidak enak. Tapi karena diteruskan sampai beberapa bulan atau
tahun,jadilah dia menjadi pecandu rokok yang jika tidak merokok sehari saja
rasanya sudah tidak karuan.
Kembali ke nafsu, setelah bertahun tahun memanjakan nafsu,
maka nafsu telah menjelma menjadi raja di diri manusia. Kecintaan nafsu
adalah dunya. Kebencian nafsu adalah Penggulingan Tahta Nafsu. Hingga
apapun yang mengarah kepada penggulingan kekuasaan Sang Raja yaitu nafsu,maka
orang ini akan menolak dengan berbagai alasan,dengan berbagai kata. Dengan
cepat sang nafsu memerintah aql untuk mencipta beratus ratus alasan,kalau perlu
beribu alasan untuk menolaknya.
Ada seorang teman namanya musa, dia bercerita: “adikku diberi
kemampuan melihat orang orang ko kepala dan wajahnya ada yang anjing,ada yang
ketek(kera),ada yang babi”. Benar,Alloh ‘Azza Wa Jalla maha kuasa memberikan
kemampuan untuk melihat hakikat orang. Seorang pemuas hawa nafsu akan terlihat
leher dan kepalanya menjadi Anjing,Babi dll.
Sang Anjing ini (Orang yang nafsunya sudah menjadi raja),ketika
diingatkan kematian maka dengan sepontan akalnya mencari kata kata untuk
menghantam balik si pengingat,misal: ” Kamu sok suci,sok ceramah,ceramahi
dirimu sendiri !”. “ah,yang nulis aja belum tentu lebih baik dariku.” atau lebih ingkar lagi: “Kemaki,tak jotos tahu
rasa koe”. Sang Anjing menyalak garang melolong memanggil teman temannya untuk
menghajar si pengingat karena merasa tahtanya terancam bahaya penggulingan. Si
Babi dengan santainya menolak Si pengingat dengan kata: “Ah,masih muda ya yang
penting heppiiii..,besok kalau sudah tua,tobat..”
Mengingat kematian sebagai salah satu cara menghancurkan
kekuasaan Raja Nafsu tidak akan memberi astar(efek) yang banyak tanpa
dilanjutkan dengan penghancur yang lain. Itu karena Raja Nafsu sudah begitu
kuat mengusai diri ‘Abd(hamba ciptaan Alloh yt manusia).
Keselatan,keutara,kebarat,ketimur,yang dicari adalah kepuasan
hawa nafsu. Bekerja mencari uang untuk nafsu. Belanja,hiburan,jalan jalan,makan
makan,minum,merokok,semuanya untuk kepuasan nafsu. Padahal Nafsu adalah
bagaikan bayi yang menetek. Sekarang puas besok minta lagi. Besok puas,lusa
minta lagi dan seterusnya.
Jujurlah temanku,dimana kamu letakkan hatimu?
Dimana kamu sembunyikan
hatimu?
Setebal apakah tabir
yang menutupi hatimu?
Duduklah dalam keheningan malam,tahajjudlah dua rokaat,setelah
itu duduklah,carilah dimana hatimu kau sembunyikan. Atau sekarang ketika kamu
membaca tulisan ini,heningkan dirimu,tanyailah dirimu: Ben ngapa sih aku ko
tidak mau mendengar nasihat para ulama,para penasihat agama? Ben ngapa?
Ketika dirimu menjawab: “ q males aja,belum pengin.”
maka tanyailah lagi:”nek wis males, ben ngapa sih?”
Jika ada jawaban: “ya males aja. Titik.”
Tanyailah lagi: “ Iya,males,tapi ben ngapa koe males?”
Tentulah alasan ini adalah jawaban nafsu yang sudah mulai malu
karena terbongkar kebusukannya. Karena malas adalah pemanjaan nafsu. Buktinya jika
kebalikannya yang dimalasi,maka akan semangat. Maka teruslah tanyai dirimu. “ben
ngapa?”
“Ben ngapa koe males? Ben sangar? Nek wis sangar ben ngapa? Ben
diarani wong gaul? Nek wis gaul ben ngapa? Ben akeh kancane? Yen wis akeh
kancane,ben ngapa? Ben ora kesepian? Nek wis ora kesepian,ben ngapa? ” Itulah
nafsu yang ingin dan selalu ingin melupakan kenyataan bahwa kita dilahirkan
sendirian,dan akan mati dikubur sendirian.
Teknik nanggap “ngeben” ini ampuh untuk menyingkap nafsu. Tanyailah
dirimu dengan: “ben ngapa?(Ada yang tahu bahasa indonesianya?)
Mengutip kata KH. Abdul Hadi jember: “Urip iki senenge
nanggapi ben. Ben diarani. Sing ahire
ben disembah koyo fir’aun. Sakpiro suwene disembah? 50 taun? 100 taun?,yen sing
mesti fir’aun sing raja sakti mandraguna ora tau kena loro(sakit) lan mriang,lan
ora tau kringetan ki wis mati. Opo maneh awak dewek sing sitik sitik
mriang,ngelu..“
Tidak ada komentar:
Posting Komentar