Tulisan ini saya sadur dari Kitab
monumental karya AsySyeh Al’Alim Al’alamah CHujjatulislam Imam Ghozali
Qoddasallohu sirroh yaitu Ichya-u ‘Ulumiddin ( kitab Ihya). Di juz 4 halaman
170 cetakan indonesia. Ayo yang punya kitabnya kita buka bareng bareng,kita
belajar bareng.
Menerangkan Ma’na Su-ul
Khotimah
(Jelek Akhir kehidupannya,jelek kematiannya,mati dalam keadaan jelek, lawan
dari chusnul khotimah)
Jika anda bertanya: ”Sesungguhnya
dari sekian ahli ‘amal dari orang-orang soleh,ketakutan mereka meruju’ pada
su-ul khotimah. Apakah ma’na su-ul khotimah itu?”
Ketahuilah ! Su-ul khotimah itu
ada dua tingkatan. Tingkatan yang pertama adalah yang lebih besar dari
tingkatan yang ke dua.
Tingkatan
yang pertama yang besar dan menakutkan(Al ‘adhimah alha-ilah)
yaitu ketika Sakarotul maut (sekarat akan mati) dan mewujudnya kepedihan
kematian, ada kalanya hati diliputi keraguan dan adakalanya diliputi
Aljuchud (kekufuran, pendustaan, pengingkaran pada: Alloh, rochmat Alloh,
Surga Alloh, Syafa’at Alloh dll). Maka ketika ruh si mati dicabut,hatinya
diliputi Aljuchud yang menjadi dinding pemisah antara dia dan Alloh swt selama
lamanya. Demikian itu menjadikan dia jauh selamanya dari Alloh swt,dan mendapat
siksa (neraka) selamanya.
Tingkatan
yang kedua ini lebih enteng dari tingkatan yang pertama. Yaitu ketika
sakarotulmaut, hati diliputi rasa chubb (suka,cinta) pada sesuatu yang
dikategorikan dunya dan atau hati diliputi keinginan dari keinginan
dunya(sering disebut Chubbuddunya:Cinta Dunya). (o ya,ana kasih tahu dulu
ta’rif / definisi dunya,yaitu sesuatu yang kemanfaatanya dinikmati sebelum ajal
menjemput. Misal; uang, rumah, kendaraan, pacar, pakaian, sawah ladang, toko, usaha,
dan sebagainya. Solat pun jika biar dipuji itu termasuk dunya. Karena Pujian
ini dinikmati oleh si pelaku solat ketika masih hidup, maka solatnya bertujuan
dunya. Walaupun pekerjaannya adalah amal akhirot tapi jika tujuannya dinikmati
dikehidupan didunia ini,bukan dinikmati setelah mati, maka itu adalah dunya.) Kemudian
Chubbuddunya ini menjelma di hati ‘Abd(hamba) dan menenggelamkan hati sehingga
tidak tersisa tempat lagi di hati ‘Abd untuk selain keinginan ini. Bertepatan
dengan keadaan ini,ruh ‘Abd tercabut. Maka tenggelamnya hati oleh Chubbuddunya
menjadikan kepala ‘Abd terjungkal sujud kepada dunya dan menjadikan wajah(Hati)
‘Abd menghadap kepada dunya. Dan bila
mana wajah hati menghadap keselain Alloh swt,maka terwujudlah hijab(penghalang
antara ‘Abd dan Alloh),dan bilamana terwujud hijab maka turunlah
‘adzab(siksa/neraka). Karena neraka Alloh yang dinyalakan hanya mengambil
orang-orang yang terhijab. Adapun orang yang beriman yang selamat hatinya dari
chubbuddunya,yang menghadapkan keinginan(cita-cita)nya kepada Alloh ‘azza wa
jalla,maka berkatalah neraka: “Lewatlah wahai mu’min,karena sesungguhnya
nur(cahaya)mu itu sungguh memadamkan kobaranku”.
Bilamana
tercabutnya ruh tepat bersamaan dengan keadaan hati dikuasai Chubbuddunya(cinta
dunya),maka itu adalah suatu perkara yang sangat berbahaya. Karena
seseorang yang mati menetapi apa yang dulu ia hidup diatasnya, maka setelah
mati tidaklah mungkin mencari sifat lain untuk hati yang merupakan kebalikan
sifat yang menguasai hati. Karena sifat dalam hati tidak dapat di ubah kecuali
dengan pekerjaan anggauta badan, padahal sungguh telah hilang fungsi anggauta
badan sebab mati. Maka hilangnya fungsi anggota tubuh maka hilang juga harapan dalam
beramal dan musnah pula harapan kembali ke dunia untuk kembali beramal. Dan
dalam keadaan demikian,besarlah kesedihan seorang hamba Alloh. Kecuali,
sesungguhnya pokok iman dan rasa cinta pada Alloh yang menancab kuat di hati
dalam waktu yang lama dan dikokohkan dengan amal soleh,maka bisa melebur sifat
chubbuddunya yang menampak hati ketika sakrotul maut. ( ae: hubbuddunya yang
membahayakan,yang menguasai hati ketika kita sedang menghadapi kematian,itu bisa
dihapus dengan iman dan cinta kita pada Alloh. Tetapi iman dan cinta pada Alloh
yang kuat,yang kokoh. Mengokohkannya yaitu dengan amal soleh.) Maka jika ada
iman ‘Abd dalam kuatnya Cuma seberat satu mistqol(timbangan seberat 1,5 dirham),maka
iman ini akan mengeluarkan ‘Abd dari neraka dalam waktu yang lebih dekat. Dan
jika imannya lebih sedikit,lebih kecil dari itu,maka lamalah ‘Abd menempati
neraka. Dan jikalaupun tidak ada iman kecuali Cuma seberat mistqolnya
bijian,maka iman ini akan mengeluarkan ‘Abd dari neraka walaupun setelah
mendiami neraka seribu tahun
(ingat, satu harinya disono ya sama disini dengan
satu ribu tahun. Buka bae surat Alhajj ayat 47. Jadi 1000 tahun ahirat = 365 x
1000 x 1000 = 365.000.000 [365 milyar tahun !]. Bayangkan pren,kita hidup paling-paling
Cuma 65 tahun tapi akibatnya fatal,sekali mati su’ul khotimah,mampir ke neraka
milyaran tahun. Eit,pean aja gemampang, kena panasnya matahari 3 jam aja di jam
11 ampe jam 2 siang,dimusim panas, wis ra betah ko, apa maning kena api 3
jam,mateng ni badan. Lha ini kena api neraka milyaran tahun coy. Ada satu perkataan dimuat di kitab ini juga
yang mengesankan: “Sungguh,bersabar dari beribadah kepada Alloh itu jauh
lebih ringan dari pada bersabar dari neraka Alloh.” Billahi taufiq walhidayah,sekian
dulu,insyaAlloh besok disambung lagi.)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar