Total Tayangan Halaman

Selasa, 18 Oktober 2011

SU_UL KHOTIMAH



Tulisan ini saya sadur dari Kitab monumental karya AsySyeh Al’Alim Al’alamah CHujjatulislam Imam Ghozali Qoddasallohu sirroh yaitu Ichya-u ‘Ulumiddin ( kitab Ihya). Di juz 4 halaman 170 cetakan indonesia. Ayo yang punya kitabnya kita buka bareng bareng,kita belajar bareng.

Menerangkan Ma’na Su-ul Khotimah (Jelek Akhir kehidupannya,jelek kematiannya,mati dalam keadaan jelek, lawan dari chusnul khotimah)

Jika anda bertanya: ”Sesungguhnya dari sekian ahli ‘amal dari orang-orang soleh,ketakutan mereka meruju’ pada su-ul khotimah. Apakah ma’na su-ul khotimah itu?”
Ketahuilah ! Su-ul khotimah itu ada dua tingkatan. Tingkatan yang pertama adalah yang lebih besar dari tingkatan yang ke dua.

Tingkatan yang pertama yang besar dan menakutkan(Al ‘adhimah alha-ilah) yaitu ketika Sakarotul maut (sekarat akan mati) dan mewujudnya kepedihan kematian, ada kalanya hati diliputi keraguan dan adakalanya diliputi Aljuchud (kekufuran, pendustaan, pengingkaran pada: Alloh, rochmat Alloh, Surga Alloh, Syafa’at Alloh dll). Maka ketika ruh si mati dicabut,hatinya diliputi Aljuchud yang menjadi dinding pemisah antara dia dan Alloh swt selama lamanya. Demikian itu menjadikan dia jauh selamanya dari Alloh swt,dan mendapat siksa (neraka) selamanya.

Tingkatan yang kedua ini lebih enteng dari tingkatan yang pertama. Yaitu ketika sakarotulmaut, hati diliputi rasa chubb (suka,cinta) pada sesuatu yang dikategorikan dunya dan atau hati diliputi keinginan dari keinginan dunya(sering disebut Chubbuddunya:Cinta Dunya). (o ya,ana kasih tahu dulu ta’rif / definisi dunya,yaitu sesuatu yang kemanfaatanya dinikmati sebelum ajal menjemput. Misal; uang, rumah, kendaraan, pacar, pakaian, sawah ladang, toko, usaha, dan sebagainya. Solat pun jika biar dipuji itu termasuk dunya. Karena Pujian ini dinikmati oleh si pelaku solat ketika masih hidup, maka solatnya bertujuan dunya. Walaupun pekerjaannya adalah amal akhirot tapi jika tujuannya dinikmati dikehidupan didunia ini,bukan dinikmati setelah mati, maka itu adalah dunya.) Kemudian Chubbuddunya ini menjelma di hati ‘Abd(hamba) dan menenggelamkan hati sehingga tidak tersisa tempat lagi di hati ‘Abd untuk selain keinginan ini. Bertepatan dengan keadaan ini,ruh ‘Abd tercabut. Maka tenggelamnya hati oleh Chubbuddunya menjadikan kepala ‘Abd terjungkal sujud kepada dunya dan menjadikan wajah(Hati) ‘Abd menghadap kepada dunya.  Dan bila mana wajah hati menghadap keselain Alloh swt,maka terwujudlah hijab(penghalang antara ‘Abd dan Alloh),dan bilamana terwujud hijab maka turunlah ‘adzab(siksa/neraka). Karena neraka Alloh yang dinyalakan hanya mengambil orang-orang yang terhijab. Adapun orang yang beriman yang selamat hatinya dari chubbuddunya,yang menghadapkan keinginan(cita-cita)nya kepada Alloh ‘azza wa jalla,maka berkatalah neraka: “Lewatlah wahai mu’min,karena sesungguhnya nur(cahaya)mu itu sungguh memadamkan kobaranku”.
Bilamana tercabutnya ruh tepat bersamaan dengan keadaan hati dikuasai Chubbuddunya(cinta dunya),maka itu adalah suatu perkara yang sangat berbahaya. Karena seseorang yang mati menetapi apa yang dulu ia hidup diatasnya, maka setelah mati tidaklah mungkin mencari sifat lain untuk hati yang merupakan kebalikan sifat yang menguasai hati. Karena sifat dalam hati tidak dapat di ubah kecuali dengan pekerjaan anggauta badan, padahal sungguh telah hilang fungsi anggauta badan sebab mati. Maka hilangnya fungsi anggota tubuh maka hilang juga harapan dalam beramal dan musnah pula harapan kembali ke dunia untuk kembali beramal. Dan dalam keadaan demikian,besarlah kesedihan seorang hamba Alloh. Kecuali, sesungguhnya pokok iman dan rasa cinta pada Alloh yang menancab kuat di hati dalam waktu yang lama dan dikokohkan dengan amal soleh,maka bisa melebur sifat chubbuddunya yang menampak hati ketika sakrotul maut. ( ae: hubbuddunya yang membahayakan,yang menguasai hati ketika kita sedang menghadapi kematian,itu bisa dihapus dengan iman dan cinta kita pada Alloh. Tetapi iman dan cinta pada Alloh yang kuat,yang kokoh. Mengokohkannya yaitu dengan amal soleh.) Maka jika ada iman ‘Abd dalam kuatnya Cuma seberat satu mistqol(timbangan seberat 1,5 dirham),maka iman ini akan mengeluarkan ‘Abd dari neraka dalam waktu yang lebih dekat. Dan jika imannya lebih sedikit,lebih kecil dari itu,maka lamalah ‘Abd menempati neraka. Dan jikalaupun tidak ada iman kecuali Cuma seberat mistqolnya bijian,maka iman ini akan mengeluarkan ‘Abd dari neraka walaupun setelah mendiami neraka seribu tahun
(ingat, satu harinya disono ya sama disini dengan satu ribu tahun. Buka bae surat Alhajj ayat 47. Jadi 1000 tahun ahirat = 365 x 1000 x 1000 = 365.000.000 [365 milyar tahun !]. Bayangkan pren,kita hidup paling-paling Cuma 65 tahun tapi akibatnya fatal,sekali mati su’ul khotimah,mampir ke neraka milyaran tahun. Eit,pean aja gemampang, kena panasnya matahari 3 jam aja di jam 11 ampe jam 2 siang,dimusim panas, wis ra betah ko, apa maning kena api 3 jam,mateng ni badan. Lha ini kena api neraka milyaran tahun coy.  Ada satu perkataan dimuat di kitab ini juga yang mengesankan: “Sungguh,bersabar dari beribadah kepada Alloh itu jauh lebih ringan dari pada bersabar dari neraka Alloh.”  Billahi taufiq walhidayah,sekian dulu,insyaAlloh besok disambung lagi.)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar